Konstruksi

Wapres Buka Kongres ke-19 PII

 

JAKARTA (Jurnal): Wakil Presiden Boediono tadi pagi membuka Kongres Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke-19 Tahun 2012 di Jakarta.
Kongres diikuti sedikitnya 500 anggota asosiasi itu yang berlangsung hingga besok (26/11)
Dalam sambutannya, Wapres mengutip sebuah ungkapan yang berbunyi, ”Scientists investigate that which already is. Engineers create that which has never been.”
Menurut Boediono, sanjungan itu bukan sekadar datang dari orang biasa, tetapi dari seorang luar biasa, seorang jenius yaitu Albert Einstein.
Menurut dia, ada dua dua sisi ungkapan itu, pertama peran istimewa dari para insinyur, dan kedua kerendahan hati seorang scientist jenius yang perlu kita tauladani.
”Saya menyambut baik tema dari kongres yang memfokuskan pada masalah-masalah strategis jangka panjang bangsa Indonesia, khususnya masalah air, pangan, energi, transportasi dan pengembangan SDM iptek,” katanya.
Boediono mengatakan bahwa rencana yang sistematis, komprehensif dan berwawasan jangka panjang harus kita punyai untuk aspek-aspek pembangunan penting itu.
”Pemerintah mengharapkan dan menghargai masukan dari PII untuk menyempurnakan rencana-rencana pemerintah yang ada mengenai masalah-masalah mendasar itu,” ujarnya. Turut memberikan sambutan dalam acara itu, Menteri PU Joko Kirmanto. (aGs/mAn)

&&&&&&&

                                                                                                      \\\\\\\\\\

MDF dan JRF Jadi Contoh dalam

Pemulihan Bencana Akibat Tsunami

 JAKARTA (Jurnal): Pengalaman Indonesia dalam upaya pemulihan pascabencana telah membantu kesiapan Indonesia menghadapi bencana, dan memberikan contoh-contoh “praktik terbaik” untuk negara-negara rawan bencana alam lainnya.

Menurut beberapa pakar dalam acara konferensi internasional pembangunan pascabencana,   dukungan yang cukup signifikan terhadap upaya pemulihan pascabencana yang dilakukan oleh Pemerintah datang dari dua program sukses: Multi Donor Fund untuk Aceh dan Nias (MDF)serta Java Reconstruction Fund (JRF).

“Program-program MDF dan JRF telah menghasilkan sejumlah pembelajaran yang menjadi perhatian masyarakat internasional, diantaranya dalam pelaksanaan rekonstruksi perumahan berbasis pemberdayaan masyarakat, pemulihan ekonomi masyarakat (livelihood), peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat tentang pengurangan risiko bencana,” kata Menteri NegaraPerencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana.

“Pengalaman dan pembelajaran yang dipetik telah memperkaya masyarakat Indonesia dan membuatnya lebih tangguh. Hal ini tentu akan membantu kita dalam mempersiapkan diri di masa depan,” kata Armida.

Konferensi internasional bertemakan Pembelajaran dari Pengalaman Indonesia dalam Rekonstruksi dan Kesiagaan Bencana  ini adalah forum berbagi pengetahuan antara praktisi dan pembuat kebijakan.

Program MDF dan JRF akan mengakhiri mandat mereka pada 31 Desember 2012. Konferensi ini menarik sekitar 500 peserta, termasuk representatif dari negara-negara rawan bencana seperti Haiti, Pakistan, dan Jepang, serta dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Armida, MDF dan JRF mendukung pendekatan berbasis masyarakat dalam rekonstruksi pemukiman, rekonstruksi infrastruktur besar dan kecil dan pemulihan matapencaharian. Program-program MDF dan JRF juga mempromosikan kesetaraan jender, peningkatan kapasitas, serta pengurangan risiko bencana.

Pemerintah Indonesia memegang peranan sentral dalam mengkoordinir rekonstruksi pascabencana yang menyeluruh. MDF dan JRF memberikan kontribusi yang penting bagi strategi pemerintah.

“MDF dan JRF telah berhasil menanggapi bencana-bencana ini,” ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia Stefan Koeberle.“Faktor utama dari keberhasilan ini adalah kepemimpinan pemerintah yang kuat, sebagaibasis kemitraan yang efektif dengan donor, lembaga internasional, LSM, dan masyarakat setempat.”

Para donor menggaris bawahi pentingnya terus berbagi pelajaran dari Indonesia akan pemulihan pascabencana dan kesiagaan menghadapi bencana.

 “Berakhirnya MDF dan JRF bukan berarti akhir dari cerita ini,” ujar Julian Wilson, Duta Besar Uni Eropa.

“Seperti yang ditunjukkan dalam konferensi hari ini—yang kita lakukan adalah sekadar menutup satu bab seraya membuka bab baru—berkolaborasi dengan Indonesia dalam lingkup ASEAN maupun internasional untuk kesiagaan menghadapi bencana.”

Gubernur Aceh yang baru dilantik, Zaini Abdullah, menyatakan penghargaannya atas bantuan yang diberikan kepada provinsi Aceh.

“Program Pembangunan Aceh setelah 2012 akan membutuhkan perhatian dan dukungan terus-menerus guna memastikan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dengan meningkatkan kapasitas dari lembaga-lembaga setempat dalam penyediaan layanan, pengelolaan keuangan publik, dan keberlanjutan program peningkatan mata pencaharian pedesaan untuk lebih banyak menciptakan kesempatan kerja,” kata Gubernur.

MDF dibentuk atas permintaan Pemerintah Indonesia setelah tsunami Desember 2004, yang menelan lebih dari 200.000 warga Indonesia dan menyebabkan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. JRF, yang dibentuk dengan mengacu pada modelMDF, dibentuk untuk menanggapi gempa bumi dan tsunami di Jawa yang menelan 5.000 korban.

Masa kerja JRF diperpanjang untuk mendukung upaya rekonstruksi terkait dengan letusan Gunung Merapi pada 2010.

Capaian MDF dalam membangun 20.000 rumah dan lebih dari 3.000 km jalan pedesaan; mendukung hampir 10.000 proyek infrastruktur setempat; rehabilitasi dan rekonstruksi dari lebih dari 1.200 bangunan publik; serta rekonstruksi lima pelabuhan nasional dan internasional adalah capaian rekonstruksi yang luar biasa.

JRF sendiri telah membangun lebih dari 15.000 rumah dan menyelesaikan lebih dari 4.000 proyek  infrastruktur lokal. JRF juga mendukung lebih dari 15.000 usaha mikro dan kecil untuk membangun usaha dan meningkatkan penghasilan mereka. (aGs/mAn)

Advertisements