Pasar Tanjung

Pasar Tanjung

Advertisements

Di Lombok Utara, Presiden Sempatkan Tinjau Renovasi Rumah Zohri

Di Lombok Utara, Presiden Sempatkan Tinjau Renovasi Rumah Zohri

LOMBOK UTARA, JURNAL IBUKOTA: Di sela peninjauan sejumlah titik pengungsian di Lombok Utara pada Selasa pagi, 14 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk mendatangi rumah Lalu Muhammad Zohri. Sebelumnya, Zohri yang merupakan atlet lari Indonesia kelahiran Lombok berhasil mengukir prestasi dan mengharumkan nama bangsa setelah memperoleh medali emas di kejuaraan dunia atletik di bawah usia 20 tahun.

Atas prestasinya tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama dengan TNI memberikan penghargaan kepada Zohri dengan merenovasi rumah yang ditempati Zohri dan keluarganya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Saat disambangi oleh Presiden, renovasi rumah Zohri masih uusu tahap pengerjaan. Rumah tersebut tidak mengalami kerusakan meski berada di wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi berkekuatan 7 SR pada Minggu, 5 Agustus 2018.

Presiden Joko Widodo sendiri ditemui langsung oleh kakak kandung Zohri, Baiq Fazilla, ketika meninjau renovasi rumah tersebut. Adapun Presiden tampak didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Kepala BNPB Willem Rampangilei.

Dari rumah Zohri, Kepala Negara dan rombongan berjalan kaki sejauh kurang lebih 100 meter untuk meninjau sebuah masjid yang roboh setelah gempa yang terjadi. Presiden kemudian langsung memerintahkan Menteri PUPR untuk segera membangun kembali masjid tersebut. Sebagai langkah awal, Menteri PUPR langsung berkoordinasi dengan satgas di lokasi untuk membersihkan puing-puing bangunan yang roboh.

Untuk diketahui, meski tengah dirundung duka, Lalu Muhammad Zohri saat ini berada di Jakarta untuk bersiap mengikuti Asian Games 2018. Di ajang tersebut, Zohri akan menjadi tumpuan Indonesia dengan turun di cabang atletik nomor lari 100 meter dan estafet. (*)

Saat Presiden Perkenalkan Teknologi RISHA kepada Warga Lombok

Saat Presiden Perkenalkan Teknologi RISHA kepada Warga Lombok

LOMBOK UTARA, JURNAL IBUKOTA: Presiden Joko Widodo memastikan bahwa mulai Selasa esok, bantuan perbaikan rumah warga terdampak gempa Lombok akan mulai disalurkan secara bertahap. Bagi warga yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan berat, Pemerintah Pusat telah menganggarkan bantuan sebesar Rp50 juta untuk tiap kepala keluarga.

Hal itu disampaikan Presiden saat bertemu dengan para pengungsi yang berada di lapangan Kantor Bupati Lombok Utara pada Senin malam, 13 Agustus 2018.

Namun, Kepala Negara menitipkan pesan kepada warga Lombok agar bersedia membangun kembali rumahnya dengan teknologi rumah tahan gempa. Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah memperkenalkan teknologi yang dinamakan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) yang memiliki keunggulan salah satunya ialah tahan terhadap goncangan gempa.

"Saya hanya ingin pesan, membangunnya nanti akan diawasi oleh Pak Gubernur kemudian akan diberikan bimbingan oleh Pak Menteri PU. Nanti membangunnya harus rumah yang tahan gempa. Namanya sistem RISHA. Jadi kalau ada gempa itu tidak goyah," tutur Presiden.

Saat meninjau penanganan pengungsian dan sejumlah bangunan rusak di Lombok Utara, Presiden mendapatkan informasi bahwa wilayah Lombok termasuk salah satu wilayah rawan gempa. Oleh karenanya, dalam rapat terbatas yang sebelumnya digelar di lokasi yang sama, Presiden menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memberikan edukasi bagi masyarakat mengenai pembangunan rumah tahan gempa.

"Saya juga baru diberi tahu, tahun 1979 dulu pernah gempa (besar) di sini sehingga rumah-rumah nanti harus mulai dibangun rumah yang tahan gempa sehingga kalau ada apa-apa rumah kita tetap bisa berdiri kokoh," ucapnya.

Mengutip laman e-produk Litbang PUPR, pembangunan rumah dengan menerapkan teknologi RISHA telah dilakukan di Aceh sebanyak kurang lebih 10 ribu unit setelah bencana tsunami melanda. Salah satu keunggulan yang didapat dari teknologi ini ialah sifatnya yang fleksibel sehingga mampu menahan goncangan gempa.

RISHA merupakan rumah dengan konsep _knock down_, di mana proses pembangunannya tidak membutuhkan semen dan bata, melainkan dengan menggabungkan panel-panel beton dengan baut. Dengan itu, pembangunan rumah ini dapat diselesaikan dengan waktu jauh lebih cepat.

Kementerian PUPR menuliskan, setelah melalui proses pengembangan sejak 2004, teknologi pembangunan rumah ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Hingga kini, RISHA telah didirikan di lebih dari 60 wilayah di Indonesia dengan jumlah mencapai ratusan ribu unit. (*)

Presiden Temui Korban Gempa di Lombok Utara

Presiden Temui Korban Gempa di Lombok Utara

LOMBOK UTARA, JURNAL IBUKOTA: Presiden Joko Widodo pada Senin, 13 Agustus 2018, sekira pukul 16.47 WITA tiba di GOR Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Sebelumnya, Kepala Negara bersama rombongan lepas landas dari Bandar Udara Internasional Lombok, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggunakan helikopter Super Puma TNI AU dengan durasi penerbangan kurang lebih 24 menit.

Setibanya di sana, Presiden langsung bergegas menuju lapangan Kantor Bupati Lombok Utara untuk mendengarkan pemaparan penanganan bencana dari Danrem 162 Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani. Untuk diketahui, Lombok Utara merupakan daerah yang paling terdampak bencana oleh karena lokasinya yang amat dekat dengan pusat gempa.

Selama paparan tersebut, Presiden tampak didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Marsekal Madya M. Syaugi, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei.

Presiden bersama rombongan kemudian juga meninjau dapur umum, posko pengungsian, ruang gembira anak-anak, dan rumah sakit lapangan yang merawat setidaknya 26 korban bencana gempa.

Usai meninjau penanganan bagi para pengungsi di lokasi tersebut, Presiden beserta rombongan beranjak ke titik peninjauan berikutnya di Dusun Lekok, Desa Gondang, Kecamatan Gangga,

Presiden sempat berdialog dengan sejumlah pengungsi mengenai bantuan apa yang paling dibutuhkan dari pemerintah pusat. Kepada Presiden, salah satu pengungsi mengharapkan bantuan biaya untuk memperbaiki dan membangun kembali rumah mereka yang roboh.

"Nanti gotong royong dan dibantu pemerintah. Yang rusak berat Rp50 juta, yang rusak sedang Rp25 juta," ujar Presiden kepada pengungsi tersebut.

Dalam tahap rekonstruksi, rumah warga yang roboh akan dibangun kembali dengan bantuan pemerintah daerah dan TNI serta dibimbing Kementerian PUPR karena akan menggunakan teknologi RISHA atau Rumah Instan Sederhana Sehat sebagai solusi rekonstruksi rumah yang tahan gempa.

"Didampingi TNI dan konstruksi dari Kementerian PU. Namanya konstruksi RISHA, Rumah Instan Sederhana Sehat, dan tahan gempa," kata Presiden.

Peninjauan penanganan bagi para pengungsi dan rumah warga yang roboh kemudian dilanjutkan di Dusun Karangkates, Desa Gondang, Kecamatan Gangga. Di lokasi peninjauan terakhir tersebut, Kepala Negara juga sempat berdialog dengan warga, menghibur anak-anak di tenda pengungsian, dan melaksanakan ibadah salat Magrib berjemaah bersama warga setempat. (*)

Pimpin Rapat Terbatas di Pengungsian, Ini 5 Arahan Presiden Terkait Penanganan Gempa Lombok

Pimpin Rapat Terbatas di Pengungsian, Ini 5 Arahan Presiden Terkait Penanganan Gempa Lombok

LOMBOK UTARA, JURNAL IBUKOTA: Usai melakukan peninjauan kondisi lapangan di Lombok Utara yang porak poranda oleh gempa berkekuatan 7 SR, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menggelar rapat terbatas bersama dengan jajaran terkait. Rapat terbatas tersebut digelar di halaman RSUD Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Sejumlah arahan diberikan oleh Presiden dalam rapat terbatas tersebut agar penanganan pascagempa dapat berjalan dengan baik dan segera memulihkan perekonomian wilayah setempat.

"Pertama, pastikan betul jumlah rumah rusak berat maupun rusak sedang dan rusak ringan," ujarnya.

Data-data terkait kerusakan rumah milik warga saat ini amat dibutuhkan untuk memudahkan pemerintah pusat mendistribusikan bantuan yang akan diberikan kepada tiap kepala keluarga. Bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat, pemerintah telah menetapkan akan memberikan bantuan sebesar Rp50 juta.

Sebagai arahan kedua, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar bantuan bagi warga yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan berat untuk dapat diserahkan mulai esok. Dirinya menargetkan sebanyak seribu kepala keluarga telah mendapatkan bantuan pada esok hari.

"Dimulai besok pagi akan segera kita serahkan bantuan untuk rumah yang rusak berat. Saya harapkan besok paling tidak minimal bisa seribu diserahkan. Kemudian setelah itu penyerahan bantuan untuk perbaikan rumah lainnya segera dilaksanakan terus," ucapnya.

Selain itu, Presiden menginginkan agar aktivitas perekonomian di daerah terdampak gempa dapat sesegera mungkin dipulihkan. Oleh karenanya, dalam instruksinya yang ketiga, Kepala Negara meminta jajarannya untuk turut memprioritaskan perbaikan fasilitas-fasilitas penunjang perekonomian.

"Untuk fasilitas-fasilitas umum yang berkaitan dengan ekonomi misalnya pasar agar ini didahulukan. Terutama pasar-pasar yang rusaknya ringan agar segera diperbaiki dan masyarakat didorong untuk beraktivitas ekonomi kembali," tuturnya.

Adapun yang keempat, Presiden menyadari bahwa di daerah yang sama gempa pernah beberapa kali melanda sejak tahun 1979. Dengan kata lain, wilayah Lombok merupakan kawasan rawan bencana gempa bumi. Maka itu, Presiden ingin agar warga setempat diberikan edukasi mengenai pembangunan rumah yang tahan gempa untuk meminimalkan kerusakan yang terjadi jika bencana tersebut kembali melanda di kemudian hari.

"Harus kita mulai sejak saat ini pembangunan rumah harus dengan konstruksi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat). Konstruksi RISHA ini nanti akan dikawal oleh Kementerian PU sehingga betul-betul rumah yang ada sebanyak yang tadi sudah disebutkan betul-betul rumah yang tahan gempa," kata Presiden.

Adapun yang terakhir, Kepala Negara juga menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk turut membenahi fasilitas-fasilitas pendidikan dan kesehatan yang rusak maupun hancur karena gempa.

"Yang kelima, saya minta Kementerian PU untuk fasilitas umum yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan satu per satu dimulai. Jangan sampai terlalu lama tidak disentuh sehingga anak-anak kita nanti tidak bisa belajar dan kegiatan belajar mengajar di sekolah juga kita harapkan bisa pulih kembali," tandasnya.

Untuk diketahui, rapat terbatas yang diadakan di sekitar tenda pengungsian tersebut dihadiri oleh di antaranya Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Marsekal Madya M. Syaugi, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei. (*)

Presiden Instruksikan Panglima TNI Tangani Wilayah Gempa yang Terisolir

Presiden Instruksikan Panglima TNI Tangani Wilayah Gempa yang Terisolir

LOMBOK UTARA, JURNAL IBUKOTA: Presiden Joko Widodo mengakui hingga saat ini masih terdapat beberapa wilayah di Lombok yang belum dapat dijangkau dan mendapatkan bantuan. Hal tersebut dikarenakan lokasi terdampak gempa yang cukup luas dan medan yang dilalui sangat berat.

"Masih ada satu, dua, tiga desa yang belum (terjangkau) karena posisinya menuju ke puncak Gunung Rinjani yang tidak bisa dijangkau oleh motor apalagi mobil," ungkap Presiden kepada jurnalis di halaman RSUD Tanjung, Lombok Utara, pada Senin, 13 Agustus 2018.

Meski demikian, Kepala Negara telah menginstruksikan jajaran terkait untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Apalagi menurut informasi yang diterimanya, saat ini masih terdapat beberapa rumah dan warga yang tertimpa longsor akibat gempa.

"Saya sudah perintahkan kepada Panglima TNI supaya diselesaikan masalah yang ada karena juga di sini sebenarnya _standby_ empat heli yang bisa digunakan," ujar Presiden.

Terkait masalah sanitasi, Presiden juga memastikan bantuan berupa 200 MCK _portable_ dari Kementerian PU dan Perumahan Rakyat akan segera datang dan dipasang di sejumlah lokasi pengungsian.

"Yang baru terpasang 90, menuju ke sini 200 tapi itu pun masih tetap kurang sehingga akan terus dihitung kekurangannya berapa dan terus akan dikirim," ucap Presiden.

Sedangkan terkait bantuan obat-obatan, Presiden memastikan telah terdistribusi dengan baik.

"Informasi yang saya terima masih dalam keadaan yang baik," kata Presiden.

Saat memberikan keterangan kepada jurnalis ini Presiden tampak didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi. (*)

Kementerian PUPR Bangun Rusus dan Rusun Mahasiswa di Papua Barat

Kementerian PUPR Bangun Rusus dan Rusun Mahasiswa di Papua Barat

PAPUA BARAT, JURNAL IBUKOTA: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan telah menyelesaikan pembangunan 50 unit rumah khusus (Rusus) yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di Kampung Wasambin, Distrik Teluk Maybilit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Rusus yang dibangun merupakan rumah tipe 36, dilengkapi meubelair dan prasarana sarana dan utilitas (PSU) seperti jalan lingkungan, drainase, listrik dan air. Kondisi tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan penghuni. Rusus yang selesai dibangun tahun 2016 lalu menghabiskan biaya sebesar Rp 9,6 miliar.

“Selain untuk MBR, pembangunan Rusus di Papua juga diperuntukan bagi pemuka agama/adat, masyarakat yang terimbas konflik, petugas, tenaga pendidikan dan kesehatan yang bertugas di daerah perbatasan dan ex anggota OPM ,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi AH saat meninjau Rusus di Kampung Warsambin mengatakan, pembangunan Rusus ini tidak hanya di Papua Barat namun hampir di seluruh Provinsi di Indonesia.

Masyarakat yang menerima Rusus sebagian besar bekerja sebagai pencetak batu bata dan pekerja kayu. Salah seorang warga penghuni Rusus, Sherly mengungkapkan, dia sudah tinggal di Rusus beserta suaminya dengan 3 anaknya, sangat bersyukur karena memang belum memiliki rumah layak huni.

"Saya merasa gembira mendapatkan rumah ini, sebelumnya saya hanya menumpang di rumah kakaknya. Penghasilan suami saya sebagai buruh pembuat batu bata hanya cukup buat makan sehari-hari," tambahnya

Selain Rusus, Dirjen Penyediaan Perumahan Khalawi AH juga meninjau Rusun Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sorong yang berada di Kelurahan Mariat Pantai, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat yang rampung pada tahun 2017. Rusun terdiri 3 lantai tipe 24 tersebut memiliki jumlah unit sebanyak 37 kamar dengan biaya pembangunan senilai Rp 16 Milyar.

Saat ini Rusun tersebut sudah dihuni oleh 150 mahasiswa. Para mahasiswa dapat tinggal nyaman karena dikelola dengan baik dan biaya sewa yang lebih murah dibandingkan sewa kamar kos di sekitar. Khalawi berpesan kepada mahasiswa yang tinggal di Rusun tersebut agar bisa menjaga suasana tertib sehingga bisa belajar dengan baik dan nyaman.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Penyediaan Perumahan terus berupaya meningkatkan taraf hidup masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah yang sejahtera dan layak huni. Penyediaan rumah MBR diantaranya dilakukan melalui pembangunan Rusus, Rusun, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dan bantuan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) perumahan bersubsidi.

Dengan program tersebut akan mendukung pencapaian target program satu juta rumah untuk mengurangi kekurangan pasokan (backlog) perumahan di Indonesia yang masih sebesar 11,4 juta unit pada tahun 2015. (*)

Progres Konstruksi Bendungan Ladongi Mencapai 32 Persen

Progres Konstruksi Bendungan Ladongi Mencapai 32 Persen

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) saat ini tengah berupaya keras menyelesaikan 34 bendungan yang tersebar di berbagai Provinsi di Indonesia. Bendungan-bendungan tersebut merupakan bagian dari program pembangunan 65 bendungan Kementerian PUPR tahun 2015-2019 dalam rangka mendukung Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla dalam mewujudkan ketahanan pangan dan air nasional.
Hingga pertengahan 2018, tercatat sebanyak 9 bendungan telah berhasil diselesaikan. Bendungan tersebut yakni, Bendungan Paya Seunara dan Bendungan Rajui di Provinsi Aceh, Bendungan Bajul Mati dan Bendungan Nipah di Provinsi Jawa Timur, Bendungan Titab di Provinsi Bali, Bendungan Jati Gede di Provinsi Jawa Barat, Bendungan Tritip di Provinsi Kalimantan Timur, Bendungan Raknamo di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Bendungan Tanju di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Total tampungan 9 bendungan tersebut mencapai 1.035 m3.

Sementara itu salah satu bendungan yang tengah dikerjakan adalah Bendungan Ladongi yang berada di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Bendungan yang dimulai pembangunannya pada Januari 2017 memiliki kapasitas tampung cukup besar yakni 45,94 juta m3 atau 2,5 kali dari kapasitas Bendungan Tanju di Nusa Tenggara Barat sebesar 18 juta m3, yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 30 Juli 2018.

Bendungan ini menahan aliran Sungai Ladongi yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Nantinya akan mengairi areal sawah dengan layanan irigasi seluas 3.604 hektar secara kontinu sehingga diharapkan produktivitas lahan pertanian meningkat dan pendapatan petani lebih besar dalam satu tahun.

Selain dinikmati petani, Bendungan Ladongi juga menjadi sumber air baku sebesar 0,12 m3/detik, pembangkit energi listrik sebesar 1,3 MW, serta mengurangi banjir dengan volume 99.704 m3/detik. Bendungan Ladongi juga potensial untuk dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Kolaka Timur.

“Hingga 15 Juli 2018, progresnya fisiknya kini telah mencapai 32 persen. Dalam pembangunan bendungan, kendala adalah cuaca. Pada saat cuaca sedang cerah, kami maksimalkan dengan penambahan shif kerja sehingga bisa selesai lebih cepat yakni pada bulan Desember 2019 dari target awal selesai tahun 2020,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari Eka Nugraha Abdi beberapa waktu lalu.

Bendungan Ladongi merupakan bendungan tipe urugan batu dengan tanah lempung. Konstruksi dilakukan oleh kontraktor BUMN PT.Hutama Karya dengan kerja sama operasi (KSO) bersama kontraktor swasta nasional yakni PT. Bumi Karsa. Biaya pembangunan bendungan ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) multiyears tahun 2016-2020 sebesar Rp 844 miliar.

Selain Bendungan Ladongi, terdapat empat bendungan lainnya yang tengah dikerjakan Kementerian PUPR di Pulau Sulawesi yakni Bendungan Kuwil Kawangkoan dan Lolak di Sulawesi Utara dan Bendungan Karalloe, Pamukkulu dan Paselloreng di Sulawesi Selatan. (*)

Menteri Basuki Suntik Motivasi 9 Ribuan Mahasiswa Baru UGM

Menteri Basuki Suntik Motivasi 9 Ribuan Mahasiswa Baru UGM

YOGYAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memberikan suntikan motivasi bagi ribuan mahasiswa baru UGM dan mengatakan mahasiswa sebagai generasi penerus keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia hendaknya dapat berkontribusi meningkatkan daya saing Indonesia dalam kancah persaingan global yang semakin ketat.

Oleh karena itu Menteri Basuki berpesan kepada mahasiswa tidak boleh berpuas diri menjadi pintar, namun juga harus memiliki akhlakul karimah. Hal tersebut disampaikan Menteri Basuki pada acara Penutupan Pelatihan Pembelajar Mahasiswa Baru (PPSMB) Universitas Gajah Mada (UGM) yang dihadiri sekitar 9.125 mahasiswa di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta pada Sabtu sore (11/8).

“_Smart is a must_. Tapi tidak cukup anda pandai, tidak cukup anda lulus cumlaude. Anda harus punya akhlakul karimah. Karena tidak ada satupun pekerjaan yang bisa dikerjakan seorang diri. Semua harus dihasilkan dengan _team work_. Keberadaan kalian di dalam tim harus membuat orang nyaman, aman dan bermanfaat bagi tim, bukan sebaliknya,” kata Menteri Basuki yang didampingi Rektor UGM Prof. Panut Mulyono, Dirjen Bina Marga Sugiyartanto dan Inspektur Jenderal Widiarto. Keduanya juga merupakan alumni UGM yang telah berkarya selama kurang lebih 30 tahun di Kementerian PUPR.

Mahasiswa sejak dini juga harus menanamkan jiwa profesional. Profesionalisme merupakan perpaduan antara kecerdasan dan kejujuran. Insan profesional akan berani menolak hal-hal yang tidak mampu dilakukannya. “Profesional bukan berarti mengetahui semua hal, melainkan mampu melakukan yang menjadi tanggung jawabnya secara jujur", demikian imbauan Menteri Basuki.

Selama masa kuliah, mahasiswa akan menimba ilmu dan pengetahuan yang menjadi bekal kehidupan dalam bersaing di masa depan. Namun di samping ilmu dan pengetahuan, mahasiswa hendaknya bisa belajar mengenai ilmu kehidupan dari interaksi dengan budaya masyarakat sehari-hari.

“Dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang kalian dapatkan di Univeritas Gajah Mada ini saya berharap anda akan kuat. Kuat karena anda profesional, kuat karena anda kompeten, sehingga anda kuat dalam menghadapi persaingan. Kalau kalian tidak kuat, tidak keras terhadap diri anda, maka persaingan yang akan keras kepada anda” kata Menteri Basuki.

Di samping menjadi insan yang kuat dan berani serta memiliki akhlakul karimah, dikatakan Menteri Basuki mahasiswa juga harus berjiwa seni. “Karena dengan seni, mahasiswa akan berani berinovasi dan berimprovisasi. Tanpa inovasi dan improvisasi anda tidak akan hidup. Inovasi dan improvisasi menjadikan manusia memiliki kepedulian pada lingkungan sekelilingnya,” papar Menteri Basuki.

Tidak hanya memotivasi para mahasiswa, Menteri Basuki juga menunjukkan jiwa seni-nya dengan mengajak mahasiswa bernyanyi bersama di mana Menteri Basuki sebagai drummer bahkan terjun ke tengah kerumunan mahasiswa yang sangat antusias.

*Menteri Basuki Hadiri Peluncuran Buku Geologi Untuk Negeri*

Usai menghadiri acara PPSMB di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, pada malam hari, Menteri Basuki menghadiri acara Peluncuran Buku "Geologi untuk Negeri" di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menteri Basuki merupakan alumni Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi UGM Angkatan 1973 dan berhasil menamatkan studi S1-nya pada tahun 1979.

Dua buku yang diterbitkan berjudul Perjalanan 59 Tahun Geologi UGM Told dan Untold Story dan buku kedua berjudul Geologi untuk Negeri Solusi Kebijakan Ekstraksi, Mitigasi, dan Konservasi Sumberdaya Geologi.

Menteri Basuki sangat mengapresiasi kehadiran buku karya alumni Teknik Geologi UGM angkatan 83. "Penerbitan buku ini adalah sebuah tindakan berani dan nekad. Saya yakin ini bukan pekerjaan mudah, merangkum semua pendapat menjadi dua buku yang istimewa ini. Terima kasih dan selamat untuk buku yang di dalamnya juga memaparkan kisah yang sebelumnya belum pernah tersampaikan (untold story) tentang perjalanan 59 tahun Teknik Geologi UGM,” pungkas Menteri Basuki. (*)