Menkop UKM Puspayoga Gembira Kisel Masuk Peringkat ke-94 Koperasi Dunia Versi WCM

Menkop UKM Puspayoga Gembira Kisel Masuk Peringkat ke-94 Koperasi Dunia Versi WCM

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga merasa gembira Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) dengan omzet Rp 5,7 triliun mampu menembus peringkat ke-94 dari 300 koperasi besar dunia.

"Peringkat Kisel sebagai peringkat ke-94 dunia, akan menjadi contoh bagi koperasi lainnya agar dapat tumbuh besar dan memelihara profesionalisme. Kami juga mendorong Kisel yang sudah memiliki lima anak usaha berbentuk PT, agar berani mengikutkan anak usahanya di bursa saham," kata Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga ketika menerima Ketua Pengurus Kisel Suryo Hadiyanto di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Suryo mengatakan dalam laporan tahunan yang dirilis World Cooperative Monitor (WCM) Tahun 2018, Kisel menduduki peringkat pertama pada kategori jasa lainnya dengan penilaian berbasis rasio pendapatan koperasi berbanding PDB nasional.

"Di kategori ini, Kisel mengungguli Selectour dari Prancis dan koperasi Permodalan Felda Malaysia Berhad dari Malaysia," katanya.

Sementara dalam jajaran koperasi besar Dunia (Top 300 Largest Cooperatives and Mutual Organizations) dengan penilaian berbasis rasio pendapatan koperasi berbanding PDB nasional, Kisel menduduki peringkat ke-94.

Menurut Suryo, Kisel merupakan satu-satunya koperasi dari Indonesia yang tercantum namanya dalam jajaran peringkat koperasi dunia tersebut.

"Rilis WCM Tahun 2018 menggunakan data Tahun Buku 2016, di mana omzet Kisel pada tahun buku 2016 dicatatkan sebesar Rp 5,7 triliun, sementara PDB Indonesia pada tahun 2016 berada di angka 932,2 miliar USS," ujarnya.

Menurut Suryo, dalam proses pemeringkatan WCM mengacu pada berbagai sumber yaitu Integrasi database yang ada dan data lain dari asosiasi nasional, Lembaga penelitian, organisasi lain serta menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data langsung dari Koperasi.

"Kuesioner tersebut diakses secara online melalui situs resmi WCM yang tersedia dalam tujuh bahasa dan terbuka untuk semua organisasi koperasi. Pada 2018, kuesioner diisi oleh ratusan koperasi di 32 negara di seluruh dunia," tuturnya.

Caption:
Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didampingi Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno menerima secara simbolis laporan dari ketua Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) Suryo Hadiyanto sebagai peringkat 94 dari 300 Koperasi besar dunia oleh World Cooperative Monitor Award kategori Other Services Based on Turnover/ GDP Per Capita 2018 di Jakarta, Jumat (05/07/2019). (Agus)

Menkop kisel

Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didampingi Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno menerima secara simbolis laporan dari ketua Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) Suryo Hadiyanto sebagai peringkat 94 dari 300 Koperasi besar dunia oleh World Cooperative Monitor Award kategori Other Services Based on Turnover/ GDP Per Capita 2018 kepada . Jakarta, Jumat (05/07/2019)

Dukung Industri dan Pariwisata di Sulut, Tol Manado – Bitung Ditargetkan Beroperasi April 2020

Dukung Industri dan Pariwisata di Sulut, Tol Manado – Bitung Ditargetkan Beroperasi April 2020

MANADO, JURNAL IBUKOTA: Pembangunan Jalan Tol Manado – Bitung (Mabit) diharapkan tidak hanya memudahkan akses barang dan jasa ke Pelabuhan Internasional Bitung salah satu pintu ekspor impor bagi kawasan Indonesia bagian timur, namun juga mendukung sektor Pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Pulau Lembeh. Tol Mabit awalnya ditargetkan rampung pada akhir tahun 2019, namun karena proses pembebasan lahan belum selesai sepanjang 13 Km maka diharapkan bisa selesai April 2020.

“(Tol Mabit) Akan mendukung keduanya, pariwisata dan industri. Pariwisata baru di Pulau Lembeh dan mendukung industri terutama industri perikanan dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung sebagai akses Pelabuhan. Ini akan men-trigger perekonomian di Bitung berkembang,” kata Presiden Jokowi ketika meninjau pembangunan Tol Mabit sepanjang 39,9 KM tepatnya di Simpang Susun Airmadidi, Jumat (5/7/2019).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan untuk mendukung pariwisata di Pulau Lembeh, akan dibangun jembatan ke Pulau tersebut yang akan dimulai tahun 2020. "Nantinya, Tol ini tidak hanya terkoneksi untuk pelabuhan dan KEK Bitung dan Tanjung Pulisan – Likupang saja akan tetapi juga untuk kawasan pariwisata Pulau Lembeh, yang dapat di akses melalui pelabuhan Bitung. Akses tersebut berupa dibangunnya jembatan penghubung dari Pelabuhan Bitung ke Pulau Lembeh dengan panjang sekitar 1 Km dengan kebutuhan anggaran Rp 500 miliar untuk dimulai konstruksinya pada tahun 2020," tambahnya.

Tol Manado-Bitung dibangun dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan nilai investasi total Rp 6,19 triliun. Kehadiran tol pertama di Sulawesi Utara ini akan memangkas waktu tempuh Manado ke Bitung dan sebaliknya dari saat ini sekitar 90-120 menit, menjadi sekitar 30 menit. Selain itu, juga dapat mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas di jalan arteri yang sudah mulai mengalami kepadatan.

Jalan Tol Manado-Bitung memiliki dua seksi. Seksi 1 Ring Road Manado-Sukur-Air Madidi (14 Km) dikerjakan oleh Kementerian PUPR dengan progres Seksi 1A (7 Km) sudah mencapai 90,65% dan ditargetkan bisa selesai pada Oktober 2019 dan Seksi 1B (7 Km) sudah rampung 100% dan ditargetkan beroperasi pada Oktober 2019.

Pendanaan pemerintah untuk konstruksi Seksi 1 sebesar Rp 3 triliun, merupakan dukungan pemerintah untuk meningkatkan tingkat kelayakan investasj jalan tol Mabit. Sedangkan Seksi 2 Air Madidi – Bitung (25 Km) dikerjakan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasa Marga Manado Bitung yang terbagi Seksi 2A Air Madidi – Danowudu (11,5 Km) progresnya 87,23% dan Seksi 2B Danowudo – Bitung (13,5 Km) progresnya 19,37%. Jalan tol ini memiliki lima Simpang Susun (SS) yaitu, SS Manado SS Air Madidi, SS Kauditan, SS Danowudu dan SS Bitung.

*Peningkatan Jalan Nasional Non Tol di Sulut*

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga juga melakukan penanganan terhadap Jalan Nasional Non Tol yang menghubungkan Manado-Bitung-Likupang. Tahun 2016 dilakukan peningkatan Jalan Likupang (7,7 Km) dengan anggaran Rp 41 miliar. Tahun 2019 dilaksanakan dua kegiatan yakni peningkatan Jalan Girian (Bitung)-Likupang (7,9 Km) dengan anggaran 57 miliar dan Jalan Akses Pariwisata Likupang (6 Km) dengan anggaran Rp 48 miliar.

Tahun 2020 akan dilanjutkan peningkatan Jalan Girian (Bitung)-Likupang (5 Km) dengan anggaran 40 miliar dan Jalan Akses Pariwisata Likupang (3 Km) dengan anggaran Rp 25 miliar.

Turut mendampingi Menteri Basuki yakni Dirjen Bina Marga Sugiyartanto, Dirjen Cipta Karya Danis H. Sumadilaga, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XV Wilayah Sulut dan Gorontalo Triono Junoasmono, Kepala Balai Sungai Sulawesi 1 M. Silachoedin, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Rusan Muhammad Nur Taib dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja. (*)

Tol Balsam 99 Km Ditargetkan Rampung Akhir 2019, Membuka Pusat Perekonomian Baru di Kaltim

Tol Balsam 99 Km Ditargetkan Rampung Akhir 2019, Membuka Pusat Perekonomian Baru di Kaltim

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat secara bertahap menyelesaikan pembangunan jalan tol yang ditargetkan sepanjang 1.852 Km dalam periode 2015-2019. Kehadiran jalan tol akan meningkatkan konektivitas antar wilayah dan efisiensi biaya logistik di Indonesia. Salah satu ruas tol yang dalam tahap penyelesaian adalah Jalan Tol Balikpapan – Samarinda (Balsam) sepanjang 99,35 Km, saat ini sudah rampung 90,19%.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, kehadiran jalan tol pertama di Pulau Kalimantan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kawasan perekonomian baru. “Pembangunan infrastruktur tidak hanya untuk mendorong perkembangan ekonomi di kawasan perkotaan dan kawasan maju lainnya, tetapi juga infrastruktur di kawasan sedang berkembang dan perbatasan sehingga bisa mengurangi disparitas sosial, ekonomi dan wilayah,” kata Menteri Basuki beberapa waktu lalu.

Kepala BPJT Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan, pembangunan jalan tol Balikpapan – Samarinda menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan nilai investasi Rp 9,9 triliun. “Ditargetkan dapat rampung pada akhir tahun 2019. Adanya tol dapat memangkas biaya logistik barang dan jasa dan waktu tempuh antar dua kota tersebut dari semula sekitar 3 jam, menjadi hanya 1 jam,” kata Kepala BPJT Danang Parikesit.

Jalan Tol Balikpapan – Samarinda juga menjadi akses penghubung Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan. Akses menuju bandara ini dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit dengan melewati Seksi V ruas Balikpapan – Sepinggan yang hanya berjarak sekitar 8 km dari bandara tersebut.

Jalan tol Balsam dibangun sejak November 2016 terdiri dari 5 seksi, yaitu Seksi I ruas Balikpapan – Samboja (22,03 Km), Seksi II ruas Samboja – Muara Jawa (30,98 Km), Seksi III Muara Jawa – Palaran (17,50 Km), Seksi IV Palaran – Samarinda (17,95 Km), dan Seksi V ruas Balikpapan – Sepinggan (11,09 Km).

Dari lima seksi, Kementerian PUPR dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memberikan dukungan pembangunan konstruksi di Seksi I dan Seksi V yang bertujuan meningkatkan kelayakan finansial ruas tol tersebut. Pembangunan Seksi 1 menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kaltim sebesar Rp 1,5 triliun dan APBN sebesar Rp 271 miliar, dimana Rp 79,88 miliar diantaranya dialokasikan untuk pembangunan Jembatan Manggar sepanjang 613 meter.

Sedangkan untuk Seksi V didanai oleh APBN yang berasal dari pinjaman dari Pemerintah China sebesar Rp 848,55 miliar atau sekitar 8,5% dari total investasi. Untuk Seksi II-III dan IV, pembangunannya menggunakan dana Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yakni PT. Jasa Marga Balikpapan-Samarinda.

Kehadiran jalan tol ini disambut baik oleh masyarakat yang terus mendukung terbangunnya jalan tol ini hingga tahap penyelesaian. Diharapkan setelah terbangunnya jalan tol ini, akan menciptakan kawasan perekonomian baru di Pulau Kalimantan dengan mendorong pengembangan kawasan-kawasan industri yang bergerak di sektor kelapa sawit, batubara, migas, dan pertanian. (*)