Gallery

Siti Nurbaya: Kejar Titik Api, Tangani Asapnya dan Hukum Pembakar Hutan dan Lahan

16siti-nurbaya-manggala-agni-250x188

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc ketika membuka Apel Temu Karya Manggala Agni 2016 di Plaza Manggala Wanabakti Jakarta, Jumat (16/12 2016).

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc meminta kepada Manggala Agni untuk mengejar titik api, menangani asapnya dan pembakarnya harus dihukum.

“Masyarakat kita dampingi agar tidak membakar lahan dan hutan,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc ketika membuka Apel Temu Karya Manggala Agni 2016 di Plaza Manggala Wanabakti Jakarta, Jumat (16/12 2016).

Temu karya Manggala Agni tahun 2016 dan Konsolidsi Antisipsi Kebakaran Hutan dan Lahan 2017 dengan tema Galang Tekad dan Kerjasama Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan dilaksanakan 13-17 Desember 2016 di hotel Mercure Ancol dan Gedung Manggala Wanabakti dengan jumlah peserta 700 anggota Manggala Agni dari 37 daerah operasi (Daops).

Pada puncak acara diserahkan Pataka kepada 37 kepala Daops sebagai lambang konsolidasi persiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan 2017, inspeksi barisan dan peralatan, penyerahan peralatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Dalkarhutla) secara siombolis kepada Bupati Toba Samosir, Bupati Muaro Jambi, kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Kepala Balai PPIKHL Wilayah Sumatera, Kepala Balai Kehutanan Provinsi Sumsel, Kepala BKSDA Kalimantan Timur dan Kepala BTN Tesso Nilo.

“Pada 2015 kita menghadapi masa yang sulit dan berat karena selama empat bulan kita mengalami kabut asap di beberapa provinsi Sumatera dan Kalimantan tertutup kabut asap. Kondisi yang nyata-nyata telah mengganggu berbagai aspek kehidupan: ekonomi, sosial, kesehatan, transportasi dan juga telah mengusik hubungan dengan negara tetangga yang ikut terlanda kabut asap,” kata Siti Nurbaya.

Menurut dia, Indonesia bisa menarik pelajaran yang sangat berharga dari karhutla 2015, bukan hanya di tingkat pelaksana, tetapi juga bahkan Presiden Jokowi yang menyatakan dalam COP 2015 di Paris pada bulan Desember 2015.

“Pelajaran terpenting dari peristiwa itu adalah kita harus akan dan tetap melakukan transformasi yang nyata dari beberapa aspek kebakaran hutan yaitu dalam hal pengelolaan hutan dan lahan, landscape, dan sebagainya,” tuturnya.

Dalam rangka transformasi tersebut, katanya, mengingat bencana api terbuka pada 2015 datang dari gambut, maka pada awal 2016 telah ditetapkan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Secara umum inti dari kebijakan Presiden Jokowi adalah pencegahan sedini mungkin dan ditegaskan dalam Rakornas di Istana Negara pada bulan Januari 2016 dengan bobot pencegahan dini dan penegakan hukum.

Pada kesempatan tersebut Penanggung jawab kegiatan Rafles B. Panjaitan mengatakan diserahkan peralatan Dalkarhutla sebanyak 6.287 unit terdiri dari mobil operasional lapangan 62 unit, mobil pengangkut peralatan 80 unit, mobil tangkiair 7 unir, sepeda motor 1.330 unit, pompa pemadam 205 unit, selang pemadam 1.365 unit, jetshooter 2.320 unit, dan alat pendukung seperti laptop, printer serta perlatan kantor lainnya. Selain itu pengadaan bahan adiktif. Sebanyak 66.250 liter dan wearpack sebanyak 1.000 stel. (Agus)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s