Gallery

Judesa Siap Menjadi Jembatan Primadona Pemda untuk Penghubung Antardesa

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong penggunaan teknologi Jembatan Untuk Desa (Judesa) oleh pemerintah daerah untuk membuka keterisoliran desa-desa terpencil. Demikan disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR Danis H. Sumadilaga di Jakarta, Jumat (21/10).

Menurut dia, warga di desa-desa terpencil yang dipisahkan sungai, masih kesulitan aksesnya.
Hal ini dikarenakan untuk membangun jembatan di samping masalah dana, pembangunannya juga dipengaruhi faktor topografi wilayah tersebut, misalnya kondisi daerah yang berada di lereng gunung tentunya akan membuat pengerjaan menjadi semakin kompleks, terutama dari segi penyediaan material.

Keunggulan dari Judesa yang merupakan hasil penelitian Balitbang, Kementerian PUPR di antaranya adalah fungsi dan kemampuannya yang sangat cocok diterapkan di perdesaan, yaitu fleksibel dan ekonomis.

“Material Judesa merupakan hasil pre pabrikasi yang dapat disiapkan terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi, sehingga membuat waktu pengerjaan jembatan lebih cepat. Sistem jembatan yang modular juga menambah kemudahan pembangunan dengan swadaya masyarakat,” tambah Danis.

Di samping itu, cara pembangunannya dilakukan satu arah atau dari satu sisi sungai sehingga cocok untuk membuka jalur perintis dan mengurangi pengangkutan material menyeberangi sungai.

Beberapa komponen jembatan juga didesain sedemikian rupa sehingga mengurangi biaya material struktur jembatan seperti penggunaan tiang tunggal.

Pada tahun lalu, Kementerian PUPR telah meresmikan Judesa pertama yakni di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tepatnya jembatan tersebut menghubungkan dua desa, yaitu Desa Cihawuk dan Desa Cibeureum.

Jembatan tersebut mempunyai panjang bentang 42 meter dan lebar 1,80 meter untuk dilalui pejalan kaki dan sepeda motor.

Besarnya biaya yang digunakan sebesar Rp 370 juta dan dibangun melibatkan masyarakat selama 2 bulan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Cihawuk, Yaya saat peresmian menyambut gembira bantuan pembangunan jembatan dari pemerintah pusat itu.

Jauh sebelum jembatan itu dibangun, tambahnya masyarakat di desanya hanya menggunakan jembatan bambu yang berkali-kali ambruk diterjang arus sungai.

“Dulu hanya ada jembatan bambu yang panjangnya cuma delapan meter dan lebarnya setengah meter. Namun, jika sungai meluap, jembatan itu ambruk, sehingga akses terputus,” ujarnya. (*/Agus)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s