Gallery

Menkop Puspayoga Hadiri Peringatan 110 Tahun Puputan Badung

DENPASAR, JURNAL IBUKOTA. COM: Masyarakat Denpasar, Bali memadati jalanan di kawasan Banjar Tainsiat, kawasan yang pernah terjadi peristiwa heroik Puputan Badung‎. Mereka tumpah ruah untuk menyaksikan Peringatan 110 Tahun perang Puputan Badung yang terjadi pada 20 September 1906 silam.

Peringatan 110 Tahun Puputan Badung ini turut dihadiri Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra, Wakil Walikota IGN Jaya Negara, Anggota DPD Cok Ratmadi, Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede dan sejumlah tokoh adat Bali.

Menkop Puspayoga hadir sekaligus membuka Festival Puputan Badung ke-3 dan pawai budaya Mahabandana Prasada 2016 sebagai rangkaian peringatan ini. Pembukaan festival diramaikan dengan kirab Keris Puputan Badung, pasar rakyat, lomba budaya dan kebersihan lingkungan.

“Saya ini kan cucunya I Gusti Ngurah Made Agung (Pahlawan Badung). Ini jadi setiap peringatan Puputan Badung saya memang hadir di sini,” ujar Puspayoga saat ditanya wartawan di sela-sela acara, di Denpasar, Selasa (20/9/2016).

Puputan Bandung rutin diperingati setiap tahun. Kali ini pihak penyelenggara mengangkat tema “Spirit 110 tahun Puputan Badung sebagai wahana pelestarian kreativitas seni budaya melalui kearifan lokal menuju Denpasar kota cerdas”.

“Semangat Puputan Badung ini bagaimana Denpasar menuju kota cerdas. Itu sudah jelas program Walikota semangat ini harus menjadi trigger,” kata Puspayoga.

“Jadi mengambil apa semangat Puputan Badung itu untuk menata kota, dan Walikota sudah jelas melalui semangat Puputan Badung ini dengan tema ini artinya bahasanya gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama,” tambah dia.

Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra mengatakan peringatan Puputan Badung sudah dimulai sejak 10 tahun lalu. Saat itu Denpasar masih dipimpin oleh Puspayoga dan dirinya sebagai wakil Walikota. Dari inspirasi kedua orang ini, peringatan ini kemudian dilaksanakan setiap tahun sekali.

“Waktu itu tonggak sejarah bagi Kota Denpasar dan Bali. Itu jadi suatu karakter keberanian yang dimilki Cokordo Mantuk Rana (sebutan dari I Gusti Ngurah Made Agung, pahlawan nasional). Waktu itulah kita peringati beliau,” jelas Ida Bagus.

“Beliau waktu itu pertahankan Bali lewat Puputan maka kita harus melestarikan semangat beliau. Tapi kita tidak berhenti di sini karena kita tahu spirit perjuangan beliau dengan apa yang kita lakukan sekarang belum sebanding,” lanjut Ida Bagus.

Dalam kesempatan acara ini, Menkop Puspayoga menyerahkan album foto perjuangan Puputan Badung kepada Walikota Denpasar Ida Bagus. Foto yang diserahkan diambil dari museum Leiden di Belanda.

Adapun untuk pawai digelar di sekitar Puri Denpasar dan Banjar Tainsiat yang diikuti 4 Kecamatan se-Kota Denpasar. Kegiatan diisi dengan kirab keris, pasar rakyat, pameran foto perjuangan, safari kesehatan, hiburan rakyat dan lomba-lomba yang digelar pada 20 – 21 September.

Sementara pada kegiatan Mahabandana Prasada akan dilangsungkan pada 22 September dengan kegiatan pameran produk dan kuliner khas Kota Denpasar di depan Pura Jagatnatha selama 3 hari.

Selain itu, pementasan kesenian tari atau tabuh di depan Pura Jagat Natha selama 3 hari, lomba melukis tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan lomba gerak jalan indah yang diikuti masing-masing kecamatan.

Parade Gong Kebyar dari tingkat PAUD, Wanita, dan Dewasa juga digelar selama sebulan penuh yang diikuti duta-duta dari empat kecamatan se-Kota Denpasar.

Puputan Badung terjadi 20 September 1906, menjadi catatan sejarah yang tak akan pernah dilupakan. Ini merupakan sebuah bentuk perang perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung. Puputan Badung berarti pula bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung.

Perang Puputan Badung itu bermula pada tanggal 27 Mei 1904. Saat itu, kapal dagang Sri Komala yang berbendera Belanda, terdampar di Pantai Sanur. Menurut pemerintah Belanda, kapal milik pedagang Cina bernama Kwee Tek Tjiang tersebut membawa banyak barang yang berharga dan dinyatakan hilang karena dicuri dan dirampok di sekitar Pantai Padang Galak Sanur.

Padahal, warga Sanur saat itu merasa telah memberikan pertolongan dan menyerahkan muatan dengan rapi kepada syahbandar. Namun, pihak Belanda tetap meminta tebusan atas barang yang dinyatakan hilang atau dirampok itu. Dengan alasan inilah, terjadi penyerangan terhadap Kerajaan Badung, tepatnya pada 20 September 1906. (Agus)

Caption

Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga, menyerahkan album foto perang Puputan Badung ke Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra, disaksikan oleh Wakil Walikota Denpasar, dan Ketua DPRD kota Denpasar (20/9). Foto yang merupakan koleksi dari museum di Leiden, Belanda, tersebut diserahkan dalam acara pembukaan Festival Puputan Badung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s