Gallery

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid Harapkan UU Kebudayaan Dapat Selesai pada 2016

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid berharap pembahasan Rancangan UU Kebudayaan dapat selesai dan diundangkan pada 2016 ini.

“Pemerintah menyambut baik inisiatif dari DPR RI untuk membahas RUU tentang Kebudayaan,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid ketika membuka Seminar Nasional Kebudayaan di Jakarta, Selasa (6/8/2016).

Seminar tersebut mengambil tema “Pemajuan Kebudayaan sebagai Pelaksanaan amanat Pasal 32 UUD RI Tahun 1945”.
Hadir pada saat pembukaan tersebut Ketua Komisi X DPR RI Ferdiyansyah dan para tokoh kebudayaan lainnya.

Menurut Farid, dinamika dalam penyusunan RUU Kebudayaan menginginkan peraturan yang lebih aplikatif terutama dalam upaya negara dalam memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk mengekspresikan, memelihara serta mengembangkan konstitusi Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 32 ayat (1) UUD 1945.

“Semangat pemajuan kebudayaan Indonesia adalah hal yang harus menjadi roh utama dalam RUU tentang kebudayaan,” ujarnya.

Menurut Farid, yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia saat ini adalah strategi pengembangan kebudayaan sebagai modal agar dapat bersaing di dunia global.

“Kebudayaan Indonesia diharapkan dapat menjadi alat diplomasi dan mampu memberikan sumbangsih yang besar dalam perkembangan peradaban dunia,” tambahnya.
Selain itu, katanya, pada masa yang akan datang kebudayaan haruslah menjadi acuan dalam setiap sendi pembangunan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Dalam rangka menjalankan amanat konstitusi Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi “negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”, masih terdpat beberapa permasalahan mendasar yang harus diselesaikan.

“Masalah tersebut adalah pembangunan ekonomi yang belum diimbangi dengan strategi kebudayaan yang kuat mengakibatkan terjadi krisis kebudayaan yang dapat memperlemah jati diri bangsa, ketahanan budaya dan ketahanan nasional,” katanya.

Menurut Farid, kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya yang dimiliki belum optimal yang ditandai oleh makin seringnya diskriminasi SARA dalam masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, belum adanya rasa tenggang rasa yang tinggi terhadap perbedaan dalam masyarakat. Adanya disorientasi tata nilai seperti nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial dan rasa cinta Tanah Air.

Hal lain, katanya, semakin meningkatnya pengalihan ruang publik menjadi ruang privat yang mengakibatkan terbatasnya ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kebudayaannya. (Agus)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s