Gallery

Kemenkop Dorong Revitalisasi Usaha Pengolahan Singkong

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Kementerian Koperasi dan UKM menegaskan perlu revitalisasi usaha pertanian, produksi hingga pengolahan cassava atau singkong. Komoditas ini sangat potensial sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri tapioka dan bio-etanol namun sangat rendah dibandingkan dengan kebutuhan.

Deputi Pengolahan dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta mengatakan kebutuhan terhadap tepung singkong sangat tinggi dan meningkat setiap tahun. Bahkan penggunaan tepung tapioka untuk industri semakin meluas tidak hanya untuk industri makanan juga industri tekstil, plywood dan batik.

Menurut data Susenas 2013, konsumsi cassava segar penduduk Indonesia sebesar 3,494 kg/kapita/tahun dan gaplek (dried cassava) sebesar 0,052 kg/kapita/tahun.

“Berdasarkan analisa usaha tani budidaya cassava oleh Perusahaan Pengembangan Perkebunan Singkong (P3S) di Kecamatan Puncakwangi Pati, Jawa Tengah dan Perusahaan Perkebunan Singkong (PPS) di Sampang, Jawa Timur keuntungan (net profit) mencapai Rp 13,3 juta/ha per siklus tanaman sigkong,” kata Wayan, pada acara “Temu Solusi Pengembangan Industri Cassava Koperasi dan UKM” yang dilaksanakan di Lor In Solo Hotel, Solo, Jawa Tengah pada tanggal 29- 30 Juli 2016.

Wayan menegaskan prospek industri pengolahan singkong yang sangat tinggi harus dimanfaatkan KUD guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah provinsi dan kabupaten setempat.

Dia mengakui ada sejumlah kendala dalam pengembangan industri cassava dalam arti luas, yaitu kepemilikan lahan pertanian yang relatif sempit sehingga tidak memenuhi skala ekonomi (economic of scale).

Karena itu disarankan agar menggabungkan lahan-lahan yang ada menjadi corporate farming system atau perkebunan rakyat/ petani agar efisien dan berdaya saing dalam suatu wadah Koperasi.

Dia mengharapkan juga ditindaklanjuti pembangunan Perusahaan Perkebunan Singkong (PPS) yang dikelola oleh koperasi dan menjadi percontohan (role model) untuk dikembangkan di daerah lain yang memiliki potensi cassava.
Wayan juga mengatakan kendala lainnya pemilikan modal kerja/investasi (saprodi) petani sangat terbatas atau bahkan tidak ada.

Dia minta agar Lembaga Pembiayaan/Perbankan dapat memfasilitasinya dengan memberikan kemudahan tanpa agunan melalui koordinasi Koperasi, khususnya KUR dan melalui LPDB.

Dia menilai juga kapasitas kewirausahaan (professional enterpreneurship) Petani Pengusaha UKM yang relatif lemah baik dalam teknologi, jejaring bisnis dan manajemen keuangan, manajemen pra panen (budidaya) dan pasca panen (penyimpanan, pengolahan, dan pemasaran) (Agus)

Advertisements
By jurnalibukota Posted in Ekonomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s