Gallery

Dewan Masjid Adakan Rakernas di Jakarta

JAKARTA (Jurnal): Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyelenggarakan rapat kerja nasional (Rakernas) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat-Sabtu (30 Nov.- 1 Des.).
Rakernas kali ini adalah untuk yang pertama kali dalam periode kepengurusan Pimpinan Pusat DMI masa bakti 2012-2017 di bawah kepemimpinan HM Jusuf Kalla, dengan tema ”Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid”. Rakernas diikuti sekitar 170 orang, terdiri dari pengurus pusat, pimpinan wilayah (provinsi) dan utusan badan-badan otonom DMI.
Dalam rakernas ini, dibahas banyak hal, baik terkit masalah internal maupun eksternal. Namun rakernas akan lebih menitikberatkan pada pembahasan di sekitar urusan internal, berbeda dengan muktamar/kongres yang banyak menyorot dinamika dan perkembangan eksternal, selain tetap memberi perhatian dinamika internal organisasi.
Menurut Jusuf Kalla, dalam pidato pembukaannya, sedikitnya ada empat persoalan internal yang menjadi perhatian dan bahasan dalam rakernas.
Yang pertama, kata Jusuf, adalah masalah internal organisasi.
Menurut dia, rakernas menjadi momentum baik upaya penguatan dan konsolidasi antara pengurus pusat dan wilayah serta badan-badan otonom DMI.
”Konsolidasi ini penting untuk mensinkronkan langkah dan program yang akan dilaksanakan, setidaknya untuk jangka waktu satu tahun ke depan,” katanya.
Selain itu, konsolidasi juga diperlukan untuk menasta harmonisasi pusat-wilayah.
Yang kedua, katanya, adalah pembenahan manajemen.
”Dalam konteks orgasnisasi yang baik dan modern, rakernas menjadi momentum untuk melakukan pembenahan dan penataan kembali organisasi (reorganisasi),” katanya.
Sejauh ini, katanya, tata kelola organisasi yang baik, sehatdan modern belum dapat diwujudkan, khususnya di kalangan DMI.
”Karena itu, penataan kembali sistem dan tata kelola organisasi menjadi kebutuhan mutlak untuk dilakukan,” katanya.
Yang ketiga, katanya, adalah kebutuhan untuk melakukan pemberdayaan masjid dan pelayanan kepada umat yang sangat besar, revitalisasi peran measjid menjadi keniscayaan.
”Sejauh ini, mayoritas pemahaman masyarakat terhadap masjid masih didominasi sebatas tempat ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya,” katanya.
Padahal, jika ditilik konsep awalnya, termasuk di masa Rasulullah, masjid menjadi sentra kegiatan peribadatan sosial, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.
Yang keempat, katanya, adalah amanat mengembalikan peran vitalnya itu, DMI telah melakukan dan menyiapkan program unggulan yang manfaatnya kelak dapat dirasakan langsung oleh umat dan masyarakat umum.
”DMI, misalnya, telah melakukan MOU dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membangun 1.000 sekolah usia dini atau PAUD berbasis masjid,” katanya. (aGs/mAn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s