Gallery

Arief: Didik Siswa Hidup Bersama dan Damai

DEPOK (Jurnal): Konflik yang timbul di masyarakat dapat bermula dari adanya perbedaan seperti perbedaan suku, budaya, maupun agama. Salah satu penyebab konflik bermula dari tidak saling menghormati perbedaan satu sama lain.

Arief Rachman

Arief Rachman

Para guru yang bertugas mendidik hendaknya mengajarkan siswa untuk dapat hidup bersama dan damai.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Organisasi PBB Bidang Pendidikan, Sain, dan Budaya (UNESCO) Arief Rachman seusai membuka Lokakarya Pembelajaran untuk Hidup Bersama di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Jumat (30/11).
Arief mengatakan, pendidikan untuk hidup bersama dan damai merupakan salah satu agenda penting UNESCO. Untuk mengembangkan konsep ini, kata dia, materi perlu disiapkan dengan baik termasuk membina para guru.
“Guru perlu dilatih cara mendengarkan pendapat orang lain dengan baik,” katanya.
Peserta lokakarya terdiri atas guru SMP dan SMA berasal dari 14 kota di Indonesia. Adapun fasilitator utama dari Indonesia, Sri Lanka, dan Portugal.
Guru, kata Arief, juga perlu dilatih keterampilan berkomunikasi. Keberagaman suku memerlukan cara pendekatan yang khusus dalam berkomunikasi terutama dalam pemilihan kalimat dan kata yang tepat. “Dimulai dengan guru karena untuk mempersiapkan generasi yang akan datang. Jadi kalau anak-anak nanti berada di dunia kerja mereka akan membawa semangat perdamaian,” katanya.
Materi yang diajarkan dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan di sekolah diantaranya kegiatan ekstrakurikuler, OSIS, dan mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan penerapan di kurikulum baru, Arief mengatakan, kurikulum intinya adalah bagaimana untuk menjadi warga negara yang baik. “Semua kurikulum akan berhasil kalau guru-gurunya bagus. Jadi kuncinya pada guru,” katanya.
Fasilitator lokakarya dari Sri Lanka Suchith Abeyewickreme mengatakan, guru dilatih mengenai isu-isu keberagaman budaya dan membangun perdamaian. Program ini, kata dia, disebut sebagai program pendidikan etika. “Kami membantu guru berpikir kritis terhadap nilai-nilai seperti rekonsiliasi, empati, dan tanggung jawab, sehingga menghargai perbedaan budaya dan dapat hidup bersama,” katanya.
Suchith mencontohkan, di negaranya Sri Lanka telah berlangsung konflik selama 26 tahun. Walaupun mulai mereda, tetapi konflik masih terjadi. Orang-orang, kata dia, masih belum mengerti satu sama lain. Melalui program ini kemudian mencoba mendorong mereka untuk berempati dan memiliki tanggung jawab etika. “Kondisi ini diciptakan di lingkungan pendidikan,” katanya.
Di seluruh dunia, program ini diterapkan dalam konteks beragam mulai di lingkungan sekolah, kurikulum, nonformal, dan di lingkungan keluarga. (aGs/mAn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s