Gallery

Ferhat: Indeks Ketahanan Pangan RI di Peringkat Kelima

JAKARTA (Jurnal): Deputy Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Batan Dr. Ferhat Aziz MSc mengatakan di antara negara anggota Asean, Indeks ketahanan pangan global Indonesia menempati posisi kelima dari tujuh negara yang dievaluasi.
”Posisi ketahanan pangan Indonesia berada di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina, ” katanya.
Posisi Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Myanmar dan Kamboja. Data tersebut dikeluarkan oleh Economic Intelligence Unit (EUI) dalam Dupont Media Forum di Singapura.
Menurut Ferhat, Indonesia harus memanfaatkan nuklir dengan sebaik-baiknya untuk peningkatan produksi dan ketahanan pangan.
Ferhat mengatakan hal itu dalam Media Indonesia Executive Forum dengan tema Nuklir untuk Pangan guna mendorong pemanfaatan hasil riset teknologi nuklir untuk mendukung ketahanan pangan Rabu (28/11) di Hotel Century, Jakarta.
Menurut Ferhat, krisis ketersediaan pangan telah menjadi permasalahan global dan juga berpengaruh di tingkat nasional.
”Bahkan krisis pangan telah menyebabkan negara harus mengimpor kebutuhan pangan dalam jumah besar, untuk menjamin ketersediaan pangan nasional.
Ferhat mengutip data Badan Pusat Statstik (BPS) selama Januari-Juni 2011, impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai US$5,36 miliar atau kurang lebih Rp 45 triliun. Barang impor pangan itu mulai dari beras, jagung, terigu, gula, garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, bawang merah, cabai hingga buah-buahan.
Adapun data impor pangan dalam periode Januari-Maret 2012 dari Pelindo II cabang Tanjung Priok menunjukkan impor beras sebanyak 330.539 ton, jagung 33.700 ton, tapioka 7.422 ton, gandum 546.932 ton dan garam 25.400 ton.
Di Indonesia, dilaporkan adanya gala panen padi di banyak daerah, penyebabnya adalah kekeringan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas lahan yang kekeringan pada Oktober 2011-Maret 2012 seluas 22.865 ha dengan lahan yang gagal panen atau puso seluas 3.624 ha dari luas tanam seluas 8.489.391 ha.
”Jadi persentase lahan yang terkena kekeringan adalah 0,27% dan yang puso adalah 0,04 % dari luas tanam,” katanya.
Jumlah ini lebih tinggi daripada periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni Oktober 2010-Maret 2011, yang luas kekeringannya mencapai 21.711 ha dengan jumlah luas yang puso 1.416 ha.
Selain gagal panen, Indonesia baru saja digoyang isu hilangnya tempe di pasar akibat kenaikan harga kedelai yang signifikan.
”Selama ini kebutuhan kedelai nasional sebagai bahan baku tempe, masih ditopang impor karena produksi kedelai nasional belum mencukupi secara nasional. Keterbatasan lahan adalah masalah utama dalam upaya peningkatan produksi kedelai nasional,” katanya. (aGs/mAn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s