Gallery

PU Lanjutkan Bentang Tengah Jembatan Merah Putih Ambon

JAKARTA (Jurnal): Kementerian Pekerjaan Umum tahun ini melanjutkan pembangunan bentang tengah Jembatan Merah-Putih sepanjang 300 meter dengan biaya sedikitnya Rp 416,76 miliar, dan diharapkan dapat beroperasi pada 2014 dengan masa pelaksanaan selama 870 hari.
Kontrak penandatanganan MOU pembangunan jembatn tersebut dilakukan pada 27 Juli di Kemenpu antara Dirjen Bina Marga Joko Murjanto dan Kepala Balai Pelaksanaaan Jalan Nasional IX Jeffry Pattiasina.
Joko Murjanto mengharapkan bentang tengah jembatan Merah Putih sepanjang 300 meter itu dapat selesai pada 2014.
Jembatan ini menghubungkan Galala Poka-Ambon yang bisa mempersingkat waktu tempuh dari kedua tempat itu dari sekitar 1,5 jam menjadi sekitar 20-30 menit, sehingga akses ke Bandara Pattimura menjadi lebih cepat bisa ditempuh.
Menurut dia, sumber dana pembangunan bentang tengah dari APBN murni dengan anggaran multiyears Rp 50 miliar pada 2012 untuk pembangunan fondasi jembatan, sedangkan pada 2013 Rp 190 miliar dan pada 2014 Rp 185 miliar.
Pembangunan bentang tengah jembatan Merah Putih ini dilaksanakan oleh kerjasama operasi (KSO) Waskita-PP-Wika. Sedangkan konsultan perencanaan oleh Eskapindo Matra dan Wesitan Konsultansi Pembangunan. Jembatan ini setelah selesai nanti, akan dipelihara selama lima tahun.
Jembatan ini dibangun dengan tipe struktur cable stayed dengan panjang bentang tengah 300 meter, terdiri dari bentang utama 150 meter, dan dua bentang pendamping masing-masing 75 meter. Tinggi pilar beton 80 m dan lebar jembatan 21,5 mter.
Gelagar yang dipergunakan adalah baja struktur ASTM 709 M grade 345, sedangkan fondasi adalah bored pile diameter 1,5 m, dengan kedalaman -45 mter. Sementara tinggi bebas 34,109 m.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Jumat (19/8/2011), melakukan pencanangan dimulainya pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP), yang membentang di atas teluk dalam Pulau Ambon.
Pencangan JMP sebagai penghubung Desa Galala, Kecamatan Sirimau dengan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, dipusatkan di kawasan Lampu Lima Tantui.
“Pembangunan Jembatan Merah Putih dinilai sangat strategis karena bertujuan menghubungkan pusat Kota Ambon dan Poka yang memang dirancang sebagai kawasan pengembangan ekonomi, juga Telaga Kodok sebagai kawasan pemukiman baru,” kata Djoko Kirmanto.
Menurut dia, keberadaan JMP tersebut sangat membantu mengatasi persoalan lalu lintas, termasuk memperpendek waktu tempuh dari bandara internasional di Laha ke pusat kota, dan sekaligus mengurangi biaya operasional kendaraan.
“Kehadiran JMP menjadi ikon pembangunan infrastruktur di Maluku, karena berfungsi mempelancar arus lalulintas, pengembangan ekonomi dan pariwisata, sekaligus mempercepat waktu tempuh dari kecamatan Leihitu Pulau Ambon ke puat Kota Ambon,” katanya.
Djoko Kirmanto juga menyatakan pembangunan JMP merupakan model infrastruktur tarnsportasi baru yang dikembangkan kementerian PU, guna mendukung Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) karena Maluku dan Papua masuk dalam koridor tiga.
Menurutnya, proses percepatan dan perluasan pembangunan di koridor tiga bertujuan memperkuat konektivitas nasional, yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated globally connected).
“Konektivitas menjadi kata kunci untuk meningkatkan keterkaitan ekonomi di antara kota dan desa, di antara kota dan kota lain, dan di antara daerah maju dan daerah tertinggal. Di sini, Kota Ambon menjadi penyangga Ternate dan Papua,” katanya.
Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Djoko Murjanto mengatakan, pencangan JMP merupakan langkah maju pembangunan di Maluku, karena sudah dirancang sejak tahun 1995.
Dia mengatakan, pembangunan JMP bertujuan menunjang pengembangan fungsi kawasan teluk Ambon sesuai dengan tata ruang kota, karena Desa Poka dan Rumah Tiga sudah ditetapkan sebagai kawasan pendidikan.

Pembangunan JMP akan dikerjakan dalam tiga tahap, yakni pekerjaan jembatan pendekat sisi utara Desa Poka dan utara Desa Galata (2011-2012) sedangkan pekerjaan bentangan, diperkirakan pertengahan 2012 hingga selesai 2014.
Proyek pembangunan JMP ditangani oleh PT Wijaya Karya dengan lama waktu kerja tiga tahun dan biaya diperkirakan sebesar Rp700 miliar.
Pencanagan JMP juga dihadiri Wakil Ketua MPRRI Meilani Leimana, dan pejabat Kementerian PU serta anggota Komisi V DPR-RI. (aGs/mAn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s