Kementerian PUPR Bangun 285 Rusus di Perbatasan dengan Teknologi RISHA

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini sedang membangun 285 rumah khusus (rusus) di daerah perbatasan di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah yang dibangun di daerah yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) tersebut menggunakan teknologi Rumah Instan Sehat dan Sederhana (RISHA) yang sudah memenuhi kategori Eco House.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Tata Bangunan dan Lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan Permukiman (Puslitbangperkim) Kementerian PUPR, Arvi Argyantoro, Selasa (30/8) mengatakan bahwa Eco House atau Eco Building adalah bangunan yang dibangun secara manual dengan tata cara atau kriteria perencanaan berorientasi pada rendahnya emisi dan rendahnya konsumsi energi serta berwawasan lingkungan.

“285 unit rumah khusus daerah perbatasan di Atambua yang saat ini sedang dibangun oleh Kementerian PUPR, menggunakan teknologi dari Puslitbangperkim,” tutur Arvi.

RISHA mempunyai konsep bahwa seluruh komponen dapat dibongkar-pasang atau knocked down system. Keuntungan dari RISHA adalah dapat dibangun secara bertahap, dapat dikembangkan pada arah horizontal dan vertikal (2 lantai), dapat dibongkar pasang dan komponen ringan. Kemudian pemasangan hanya satu hari, komponen dapat diproduksi secara home industri dalam upaya pengembangan UKM, fleksibilitas desain tinggi, tergantung kreativitas arsiteknya, dan dapat mengakomodasi potensi lokal (budaya maupun bahan bangunan).

Menurut Arvi, dalam membangun sebuah bangunan berwawasan lingkungan salah satu aspek yang harus dipenuhi adalah efisiensi energi, baik saat bangunan tersebut jadi maupun pada saat pembangunannya.

“Kementerian PUPR saat ini sedang mengembangkan dan membuat beberapa teknologi yang disebut sebagai precast yang dibangun di pabrik sehingga saat sampai di lokasi, langsung dirakit, jadi tidak melakukan pembangunan yang mengeluarkan energi besar dan waktu,” tuturnya.

Ia menyampaikan bahwa beberapa indikator desain bangunan yang berwawasan lingkungan yaitu pemanfaatan energi alternatif, seperti energi surya untuk penerangan buatan pada bangunan, memanfaatkan sirkulasi udara alami serta pola daur ulang dalam upaya menurunkan emisi dan pemanfaatan bahan daur ulang dalam tahap konstruksi maupun tahap operasional.(Agus)

Gallery

Ramly: Kemdikbud Peringati 25 Tahun Borobudur dan Prambanan Ditetapkan Sebagai Warisan Dunia

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan Kebudayaan Nazamudin Ramly mengatakan untuk memperingati 25 Tahun ditetapkannya Borobudur dan Prambanan sebagai situs Warisan Dunia dan Pendidikan untuk Semua dengan tema Love or Lost. “Program ini adalah sebuah … Continue reading

Menkop: Semangat Kewirausahaan di Indonesia Sangat Tinggi

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan bahwa semangat dan jiwa kewirausahaan di Indonesia terbilang sangat tinggi. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas pemerintah bila memberikan kemudahan dalam berusaha bagi seluruh rakyat Indonesia. “Kita menyiapkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah, yaitu 9%. Bahkan, tahun depan akan turun lagi menjadi 7%. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia”, kata Menkop pada acara launching pemasyarakatan kewirausahaan Gerakan Kewirausahaan Nasional dan pelantikan Pokja Koperasi, Wirausaha, dan UKM DPP Partai Golkar, di Jakarta, Selasa (30/8).

Di acara yang juga dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto, Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu, Puspayoga menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah wirausaha maka jumlah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia akan menurun. “Saya mengapresiasi langkah Partai Golkar dalam mencetak wirausaha di Indonesia. Karena, bila wirausaha kuat akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, dimana kesenjangan ekonomi akan tergerus. Bila kesenjangan ekonomi menurun, itu akan semakin memperkuat kita dalam bingkai NKRI”, tandas Menkop lagi.

Puspayoga pun menyarankan agar para wirausaha pemula itu nantinya akan tergabung dalam koperasi. “Karena, untuk menciptakan pemerataan ekonomi itu tidak ada cara lain selain harus memberdayakan dan memperkuat lembaga koperasi”, imbuh Menkop seraya menyebutkan bahwa pihaknya sudah menggulirkan program Reformasi Total Koperasi di seluruh Indonesia.

Reformasi koperasi itu, lanjut Menkop, mencakup rehabilitasi koperasi (database koperasi), reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi. “Hanya 140 ribu koperasi yang masuk database kami untuk dikembangkan menjadi koperasi berkualitas. Kita tidak mau lagi fokus pada kuantitas, melainkan fokus pada kualitas koperasi. Banyak koperasi bagus di Indonesia dengan aset dan omzet mencapai triliunan rupiah. Ini yang akan terus kita kembangkan”, kata Puspayoga.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Koperasi, Wirausaha, dan UKM DPP Partai Golkar Idris Laena mengatakan, pihaknya akan mendirikan koperasi primer bernama Koperasi Kekaryaan Partai Golkar, yang bergerak di bidang simpan pinjam, ritel, dan jasa. Kemudian, akan memberikan pelatihan kewirausahaan di seluruh Indonesia, termasuk pelatihan berkoperasi. “Langkah selanjutnya adalah mendirikan koperasi-koperasi sekunder di daerah. Saya pastikan, nantinya akan tergabung sekitar 3,8 juta orang yang akan menjadi anggota koperasi Partai Golkar ini. Intinya, Partai Golkar akan turut mensukseskan program pemerintah dalam Gerakan Kewirausahaan Nasional”, pungkas Idris. (Agus)

Subsidi Perumahan Jaga Daya Beli MBR Untuk Miliki Rumah Layak

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA. COM: Pemerintah menjaga agar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tetap mendapatkan rumah dengan harga yang terjangkau. Untuk menjaga daya beli MBR ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggunakan skema Kredit Perumahan (KPR) Subsidi melalui KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR-FLPP), KPR Selisih Suku Bunga (SSB) dan Bantuan Uang Muka (BUM).

“Dengan subsidi tersebut, MBR mendapatkan bunga rendah yakni 5% dibandingkan bunga pasar yang berkisar 9%-13%. Bunga 5% tersebut berlaku tetap hingga jangka waktu 20 tahun,” kata Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarief Burhanuddin dalam Diskusi Bersama Media dengan tema Prospek SSB dan BUM dalam Mendorong Percepatan Program Sejuta Rumah di Jakarta (29/8).
Syarief mengatakan bahwa saat ini FLPP sudah terserap sebanyak 100% untuk 100 ribu unit rumah dengan total anggaran Rp 9,2 triliun. Oleh karenanya skema KPR-SSB dan BUM menjadi salah satu penopang dalam mencapai target program pembangunan sejuta rumah.

Turut hadir dalam diskusi tersebut Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Maurin Sitorus, Project Manager Officer Perumnas Andi Patria Nusantara, Kepala Divisi Subsidized Mortgage BTN Hirwandi Gaffar dan Pemimpin Redaksi Majalah Indonesia Housing M. Reynaldi.

Pembangunan rumah dengan dana APBN ditargetkan sebanyak 700 ribu unit melalui penyediaan rumah seperti pembangunan rumah susun, rumah khusus dan rumah swadaya sebanyak 200 ribu unit dan melalui pembiayaan perumahan bagi MBR melalui KPR-FLPP, SSB dan BUM sebanyak 600 ribu unit.
“Pemerintah dari sisi demand, mendorong melalui FLPP sekitar 100 ribu unit melalui anggaran Rp 9,2 triliun sedangkan melalui SSB dan BUM ini, bisa sampai 400-500 ribu unit, dengan anggaran Rp 2,3 triliun,” tutur Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Maurin Sitorus yang juga hadir sebagai narasumber.

Sebagai ilustrasi, Maurin menyampaikan dengan harga rumah sebesar Rp 110,5 juta, setelah mendapatkan bunga 5% selama 20 tahun, angsuran yang dibayar masyarakat per bulannya sebesar Rp 722 ribu atau lebih kecil dibandingkan bila menggunakan bunga pasar dengan angsuran yang harus dibayar sebesar Rp 1,281 juta.

“Rumah jadi kewajiban Negara tapi kita harus efektif, 40 persen penduduk kita masih MBR, inilah yang harus kita dukung,” tambah Maurin.

Sebanyak 40 persen penduduk Indonesia masih dalam kategori Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan melalui FLPP, SSB dan BUM ini diharapkan dapat membantu mereka dalam kepemilikan rumah. (Agus)